November 29, 2022

Dari perjalanan saya keliling Eropa 1,5 bulan pada Juni-Agustus lalu, yang paling berkesan justru cerita kesialan-kesialan yang menimpa saya. Rupanya cerita sial ala #TrinityBanget belum berakhir!

Hari ketiga di Eropa, saya menginap di kos teman yang kamarnya berada di attic (loteng) khas rumah Belanda kuno. Setelah packing karena mau pindah kota, saya menuruni tangganya yang sempit dan tegak lurus. Saat turun sambil gotong koper, kaki saya kelewatan satu tangga dan… GEDUBRAK! Saya jatuh terjengkang dari ketinggian 1,5 meter, mendarat di pantat, plus ketiban koper! AWW! Awalnya masih sakit biasa, eh lama-lama saya kok susah jalan. Takut kenapa-kenapa, pergilah saya ke dokter. Katanya ga ada patah tulang, cuman memar di dalam. Cuman? Sepuluh hari lebih jalan saya sengklek! Mana tubuh saya bau balsam pedas gitu!

Lalu, dalam perjalanan di bus dari Kroasia ke Montenegro perut saya rasanya kok ga enak dan kepala pusing. Sampai di penginapan di Kotor (ini nama kota), eh saya diare parah dan malamnya muntah! Tiga hari saya mengurung diri di kamar karena lemas. Keluar hanya sekali untuk dan belanja bahan makanan ke supermarket dan ke apotek untuk beli obat (itupun susah payah menerangkan karena staf ga bisa berbahasa Inggris). Sial bener, padahal lokasi penginapan saya oke banget, persis berada di dalam wall kota tuanya.

Di Albania, saya sehat ceria, sampai hari keempat saya ke Butrint. Ini adalah situs arkeologi peninggalan zaman Romawi yang sangat luas, tapi karena tempatnya terpencil di tengah hutan, bus umum hanya ada sejam sekali. Saking asyiknya keliling, saya baru sadar hanya punya 10 menit lagi untuk naik bus. Daripada nunggu bego sejam lagi, saya memutuskan untuk berlari ke halte. FYI, sepatu saya jebol (another sial!) sejak di Kroasia, jadi saya hanya pakai sandal. Dari kejauhan, terlihat bus sudah dinyalakan dan siap bergerak. Saya tambah kencang berlari, dan… BRUK! Saya kesandung trotoar! Lutut saya boncos berdarah-darah! Hadeuuh! Untung ditungguin busnya!

Itu baru soal sakitnya yang saya rasa terjadi karena kecerobohan saya. Tapi kok kejadian sial terus menimpa saya, sampai kejadiannya pun ga masuk akal! Saya pikir karena saya lagi jalan sendiri jadi ga ada yang mengingatkan. Tapi anehnya, pas saya jalan sama orang lain pun kok tetap sial?!

Contohnya di Sardinia, saya jalan bareng Ezra (sepupu saya), Tante M (adik ibu), dan Tara. Setiap hari kami ke pantai. Nah, dari ribuan orang yang lalu lalang di pantai dan tiga orang teman jalan, bisa-bisanya ada satu ban terbang kencang… menabrak saya! Iya, cuma kena ke muka saya doang! Atau, ketika kami lagi asyik berendam di pantai, payung pantai gede gitu tiba-tiba terbang dan lagi-lagi sukses menabrak saya! Catat: cuman kena saya, bukan kena teman jalan atau orang lain di tempat yang sama! Ga masuk akal kan?

Di Dubrovnik, saya jalan berdua Tante M naik bus umum. Sistemnya kita bawa kartu bus, divalidasi oleh supir busnya, baru boleh masuk. Tante M masuk duluan lancar, persis di belakangnya saya masuk… tiba-tiba mesin validasinya mati! Penumpang sebus sampai menggerutu karena supir lama benerin mesinnya. Lha, kok bisa pas saya? Atau ketika kami di bandara gantian ke toilet. Tante M beres, giliran saya masuk toilet yang sama, eh tiba-tiba aja ditutup! Pas saya lagi lho!

Di Ksamil, saya dan seorang teman makan malam di restoran alfresco yang cukup mahal. Tau-tau hujan turun dengan derasnya sampai bikin basah seluruh tamu! Tak lama kemudian… JEBRET! Listrik mati! Negara di Eropa kan sangat jarang mati lampu sehingga mereka ga persiapan punya genset, ga ada senter, bahkan ga punya lilin! Akhirnya saya numpang berteduh di dalam dapur menunggu hujan reda, lalu jalan kaki pulang ke hotel dalam kegelapan. Rupanya listrik mati terjadi di seluruh kota sampai pagi, saya pun tidur banjir keringat!

Di Roma, saya jalan bareng Sri dan keluarganya yang jaminan mewah. Sewa apartemen aja luas dan keren banget, tapi toh terjadi juga kesialan. Malam kedua, seluruh AC di rumah mati! Cuman AC, listrik baik-baik aja padahal. Tau aja di Eropa, ga bisa datengin tukang servis malam-malam, jadilah semalaman banjir keringat lagi. Kepanasan, besoknya kami ke Castel Gandolfo, 30 km dari Roma, untuk berenang di Danau Albano yang cantik. Pulangnya, eh kereta strike (mogok karena demo)! Taksi pun tidak ada yang mau mengangkut karena kejauhan. Setelah berusaha bermacam cara berjam-jam, baru jam 10.30 malam kami akhirnya pulang dengan cara pesan taksi melalui teman di Roma dengan membayar dobel. Damn!

Danau Albano, Italia

Ya ampun… bisa ga sih perjalanan saya lancar-lancar aja? Yang saya tulis di atas baru setengah dari cerita kesialan saya padahal. Mau jalan sendiri maupun sama teman, mau jalan gembel maupun mewah, kok saya tetap sial?!

Tara yang pulang duluan berkomentar, “Kenapa sih IG Story lo selalu mencekam?” Well, saya ga tau jawabannya karena memang begitu realitasnya: saya sakit, jatoh, listrik mati, dan sebagainya. Ezra dan Tante M yang sudah sering jalan sama saya sih sudah paham. Ezra bilang saya selalu ciong sama anak kecil tantrum dan kondisi toilet jorok, tapi dia baru sadar bahwa kesialan saya jauh lebih parah daripada itu. Menurut Tante M, saya memang dari dulu accident prone alias cenderung mengalami kecelakaan. Tak heran alm. ibu sering melarang saya sejak kecil untuk masuk ke toko barang pecah belah.

Dulu saya pikir ini adalah the curse of a travel writer –  perjalanan seorang penulis perjalanan tidak pernah smooth karena ada aja kesialan yang terjadi, konon supaya ada bahan untuk ditulis. Tapi saya sudah menyelesaikan buku The Naked Traveler di seri kedelapan pada 2019! Saya pun tidak lagi menulis untuk majalah karena pada tutup akibat pandemi.

Padahal setiap hari di Eropa saya mengucapkan mantra, “I’m not a travel writer anymore. My journey will be smooth!” karena katanya bisa bikin keadaan positif. Saya juga selalu memanjatkan doa agar diberi kelancaran. Eh, kok tidak mempan ya? Huhuhu…! Apakah ini caraNya supaya saya pensiun gebet laki? Eh.

Jadi saya harus gimana, gaes? “Diruwat!” ledek Ezra. No. Seriously. Mungkin ada yang tau penjelasan ilmiahnya mengapa saya begini? Atau ada tip dari kalian supaya perjalanan saya lancar? Kasih pencerahan dong!


P.S. Agar blog yang berusia 17 tahun ini bertahan secara independen dan supaya saya semangat menulisnya, silakan menyumbang “uang jajan” untuk saya di sini. Terima kasih.