November 29, 2022

Karya: Laksmi Proborini* (Pemenang #LombaKelasTrinity)

Umurku, sejauh yang bisa kuhitung adalah 36 tahun. Kulitku putih dan asalku dari Korea Selatan. Aku yakin sekali asal usulku yang satu itu, meski tidak ada yang sanggup membuktikannya. Aku ingat jelas sekali seakan baru saja terjadi, majikan pertamaku adalah seorang pemuda asal Korea Selatan karena saat itu adalah acara Perkemahan Pramuka sedunia di Deokyudae Scout Reservation dan dia menggunakan seragam South Korean’s boy scout.

Majikanku itu tinggi, putih, sepertinya masih SMA dilihat dari tinggi badan dan kefasihan bahasa Inggrisnya. Sebagai info saja, pada 1985 di acara berskala internasional, 85% peserta Korea Selatan tidak bisa berbahasa Inggris. Jadi komunikasi dengan peserta dari negara lain terjalin dengan penerjemah. Atau, jika tidak ada penerjemah yang sedang berkeliaran, menggunakan bahasa isyarat seadanya. Aku tidak tahu apakah majikanku itu tampan atau tidak, aku tidak dapat mengingatnya. Bahkan aku tidak ingat nama majikan pertamaku. Ingatanku saat ini hanya berdasarkan ingatan majikanku berikutnya.

Tapi aku ingat bahwa majikanku si pemuda Korea tertarik pada gadis remaja asal Indonesia saat melihatnya menarikan tarian tradisional Indonesia di satu malam musim panas pada Juli 1985 itu. Gadis itu, yang menjadi majikanku sekarang ini, menari begitu gemulai dan juga tangguh, sesuai dengan karakter tariannya yang diangkat dari gerakan bela diri pencak silat. Dia menari sendirian di tengah-tengah penonton yang sebagian besar adalah orang asing dengan percaya diri, luwes, dan memikat hati.

Pucuk dicinta ulam tiba, keesokan harinya saat berjalan mengelilingi bumi perkemahan di waktu senggangnya, si pemuda bertemu dengan si gadis remaja yang juga sepertinya sedang berjalan-jalan melihat-lihat pemandangan. Langsung saja si pemuda mengajak si gadis mengobrol di salah satu tenda kosong di dekat sana. Jangan berpikiran buruk dulu! Mereka hanya duduk dan mengobrol di pintu tenda. Masih banyak Pramuka-Pramuka lainnya yang berseliweran di sekitar mereka. Benar-benar hanya mengobrol. Itu pun sudah menjadi momen yang meninggalkan kesan yang sangat dalam bagi si gadis untuk menjadi kenangan seumur hidupnya.

Si gadis adalah siswi yang cukup berprestasi di sekolahnya, terutama dalam mata pelajaran bahasa Inggris. Tapi dia sangat pemalu. Jika di gugup maka segala macam perbendaharaan kata dalam bahasa Inggris, bahkan bahasa Indonesia juga, akan melayang dari benaknya. Jadi bisa dibayangkan suasana yang terjadi pada saat mereka berdua mengobrol di keteduhan pintu tenda. Memang sih, kebanyakan si pemuda yang bertanya dan si gadis hanya menjawab. Dalam bahasa Inggris tentunya.

Tapi begitu pertanyaan-pertanyaan yang diajukan si pemuda menjadi semakin sulit (ini murni anggapan dari si gadis karena semakin lama waktu yang dihabiskan mereka mengobrol, semakin gugup dirinya, dan semakin susah dia mengartikan ucapan si pemuda yang menganggap dirinya memiliki kekurangan dalam vocabulary bahasa Inggris), maka sungguh lucu melihat akhir dari obrolan dan pertemuan mereka. Dengan pipi merah padam dan wajah tertunduk, si gadis berkata, “I am so sorry, I can not speak English!” dan hendak beranjak meninggalkan si pemuda. Ya ampun! Memangnya sedari tadi mereka berkomunikasi menggunakan bahasa apa?

Sebelum si gadis sempat berdiri dan meninggalkan tenda, si pemuda segera memakaikan sebuah topi putih cantik berpita cokelat berbunga kuning dan putih ke kepala si gadis, seraya berkata bahwa itu adalah kenang-kenangan darinya. Segera setelah itu, si gadis melarikan diri dengan hati berdebar, kembali ke tendanya sendiri.

Sesudahnya mereka tidak pernah bertemu lagi. Entah karena kegiatan acara yang cukup padat, ataupun karena takdir belaka. Yang pasti si gadis selalu bertanya-tanya dan menyesali diri, mengapa saat mereka bertemu untuk pertama dan terakhir kalinya mereka tidak bertukar alamat, sehingga mereka setidaknya bisa saling berkirim surat. Zaman itu email belum ada, apalagi telepon genggam. Surat adalah cara komunikasi paling umum. Dan si gadis suka sekali berkirim surat dengan teman-temannya di Indonesia dan di luar negeri.

36 tahun berlalu. Ingatanku sekarang hanya milik si gadis. Ingatan tentang perkemahan musim panas di Korea Selatan.  Ingatan tentang betapa bangga dirinya menjadi duta kesenian di acara internasional, mengalahkan peserta satu timnya dari Indonesia untuk menampilkan tarian solo. Ingatan tentang dirinya yang hanya mandi sekali selama lima hari berkemah di pegunungan karena jauhnya jarak kamar mandi umum dan betapa dingin air di sana. Ingatan tentang betapa sulitnya menahan BAB hingga tim mereka kembali ke peradaban, hotel. Iya, majikanku tidak bisa BAB di perkemahan karena toilet umum yang disediakan hanya berupa lubang di tanah, tanpa ada keran air ataupun tisu.

Dan pastinya ingatan tentang pemuda Korea yang menyapa dan mengajaknya mengobrol, yang memberinya hadiah sebuah topi putih cantik. Ingatan tentang penyesalan dirinya yang tidak berusaha melihat wajah si pemuda, penyesalan tidak menghafalkan nama si pemuda, penyesalan tidak menanyakan alamat si pemuda. Juga ingatan tentang gadis remaja pemalu yang pulang naik pesawat sendirian dari Balikpapan ke Tarakan, Tarakan ke pulau Bunyu, dengan memangku sebuah topi putih. Topi yang selalu disimpan dan ditatapnya dengan mata penuh kenangan masa lalu. Topi putih yang akhirnya dimakan usia: aku.


*Laksmi Proborini, ibu rumah tangga, 50 tahun. Bahagia dengan suami yang (sayangnya) rejekinya di luar kota alias LDR, dan satu gadis remaja, plus 2 kelinci. Penggila novel historical romance dan vampire ataupun paranormal romance. Moody crafter.

#LombaKelasTrinity adalah lomba menulis yang ditujukan bagi para peserta kelas “Cara Mudah Menulis Perjalanan” pada 29 Oktober 2021. Tiga pemenang mendapat sesi private coaching menulis dari Trinity dan paket buku dari Bentang Pustaka. Info kelas-kelas daring yang diadakan oleh Trinity dapat diakses melalui blog ini, Instagram dan Twitter @TrinityTraveler.