November 29, 2022

Bagaimana pandemi telah mengubah cara kita bepergian/jalan-jalan? Ini pengamatan saya traveling di lima negara Eropa pada Juni-Juli 2022 selama 1,5 bulan pada saat protokol kesehatan dilonggarkan meski masih (dinyatakan) pandemi.

Sejak pandemi mulai Maret 2020, sebenarnya saya sudah pernah traveling ke luar negeri, yaitu ke Turki pada September 2020 (tulisannya di sini). Saya memang menunggu bisa traveling ke luar negeri lagi setelah vaksin penuh dan saat negara tidak memberlakukan lagi tes PCR dan/atau karantina. Begitu dunia mulai longgar, saya pun pasang ancang-ancang untuk segera cabut! Deg-degan? Tentu! Bayangkan, sudah dua tahun saya tidak solo traveling ke luar negeri!

Ksamil, Albania

Ternyata ada hal-hal yang telah berubah setelah 2,5 tahun pandemi, paling tidak di Eropa. Secara umum begini;

  1. Lebih mahal.
    Pertama, karena pas dibuka pas high season musim panas (summer). Tak heran begitu protokol longgar, banyak orang yang jadinya “revenge travel”. Setelah dikarantina sekian lama, orang berbondong-bondong traveling pada saat bersamaan.
    Kedua, karena perang Rusia-Ukraina, harga bahan baku dan BBM di Eropa naik.
    Ketiga, informasi di situs industri pariwisata banyak yang tidak update, jadi sering harga sudah naik, sehingga bujet membengkak.
    Terakhir, ini pendapat pribadi: karena 2,5 tahun pandemi bikin pemasukan seret, saya jadi lebih menghargai uang karena sulit banget dapetnya! Dengan kurs EUR ke IDR yang makin jomplang, saya syok! Bayangkan, pipis di toilet umum 1 Euro itu bisa buat makan seporsi di kita! Huhuhuuu!
  2. Lebih lama.
    Saat dua tahun pandemi, banyak bandara yang tidak beroperasi sehingga mereka mem-PHK karyawannya. Begitu dibuka lagi, alhasil bandara jadi kekurangan karyawan. Akibatnya, antrean panjang karena dilayani oleh sedikit orang.  Belum lagi menyebabkan pesawat delay, cancel, atau hilangnya bagasi. High season dan understaffed adalah kombinasi yang bikin kacau. Bukan hanya di bandara, tapi terjadi juga di transportasi umum lainnya. Urusan bikin visa juga memakan waktu lebih lama dari biasanya karena membludaknya pelamar (cara bikin visa Schengen di sini).
  3. Tanpa protokol kesehatan.
    Ini tergantung negara dan kotanya. Di Dubrovnik, Kroasia, saya dibentak orang lokal untuk lepas masker. Sebaliknya, di bus umum di Milan, Italia, supir bus membentak penumpang yang tidak mau pakai masker. Sementara di pesawat, tergantung peraturan maskapainya. Penerbangan internasional long-haul masih mewajibkan, tapi penerbangan antar kota/negara di Eropa sudah bebas masker. Saya sih tetap pakai masker kalau di dalam pesawat dan transportasi umum antarkota, itu pun diliatin penumpang lain!
    Sama seperti di Indonesia, menjaga jarak sama sekali tidak terjadi. Cek suhu tidak pernah ada. Hand sanitizer sudah tidak lagi disediakan, meski sebagian restoran masih menyediakan QR code untuk akses menu.
    Ini agak mengerikan, tapi saya sempat nonton konser Queen & Adam Lambert di stadion Bologna, 99% penonton umplek-umplekan tidak memakai masker!
  4. Sepi rombongan turis Asia.
    Saat ini banyak turis yang traveling secara independen, tidak ikut grup tur dari negaranya. Rombongan turis Asia yang sering menyebalkan karena berisik dan memakan space tempat wisata, tidak terlihat. Mungkin mereka belum boleh keluar dari negaranya, atau urusan visa yang makin sulit dan lama, atau belum saatnya aja. Satu lagi, karena perang, turis Rusia pun tidak terlihat.

Sedangkan bagi saya pribadi, pandemi telah mengubah cara traveling jadi begini;

  1. Tak lagi menginap di dorm hostel.
    Alasannya tentu karena saya masih parno. Males aja sharing sekamar bermalam-malam dengan banyak orang nggak dikenal di dalam ruangan sempit yang sering tak berjendela. Belum lagi sharing kamar mandi. Iya, pandemi bikin saya agak germophobia! Awalnya saya khawatir juga, soalnya hostel adalah tempat di mana kita ketemu sesama traveler, jadi ada teman ngobrol dan jalan bareng. Kali ini saya memilih bayar lebih mahal untuk sewa apartemen atau menginap di hotel. Tapi ternyata perjalanan saya lancar-lancar aja dan saya tetap bisa punya teman baru hasil kenalan di luar.
  2. Bawa koper, bukan ransel.
    Demi cuan (karena pemasukan seret), baru di trip kali ini saya buka jastip. Sengaja bawa koper ukuran medium biar bisa dimasukin barang jualan. Lumayan lah buat nambahin jajan! Itu pun saya masih merasa risih karena koper kegedean untuk naik transportasi umum. Lagipula saya lagi cedera bahu.
  3. Tidak bawa kamera, tapi bawa laptop.
    Sebelum pandemi, saya sering menulis artikel perjalanan untuk majalah, jadilah setiap jalan-jalan saya bawa kamera DLSR supaya kualitasnya layak terbit. Sayangnya begitu pandemi, banyak majalah yang tutup! Jadilah saya nggak bawa kamera lagi. Sekarang semua foto dan video dari ponsel aja untuk kepentingan medsos.
    Sebaliknya, biasanya saya nggak bawa laptop (kecuali perginya lama banget), sekarang malah bawa. Maklum, pandemi gini segala urusan jadi pindah ke daring, seperti meeting dan webinar. Itu pun susah payah cari waktu yang pas karena beda time zone lima jam!
  4. Beraktivitas outdoor.
    Demi mengurangi risiko penularan, trip Eropa kali ini memang tujuannya berenang di pantai. Untungnya beberapa kota/negara sudah pernah saya kunjungi sebelumnya jadi tidak perlu masuk museum atau beraktivitas indoor lagi. Makan di restoran pun saya duduk di luar. Dugem? Tidak terjadi!
    Tonton deh vlog liburan saya saat di Italia:
  5. Tidak buka aplikasi kencan.
    Eaaaa! Jangan ketawa, tapi pandemi gini saya beneran parno dekat-dekat sama orang nggak dikenal! Apalagi bule kan cuek banget sama protokol kesehatan. Hiy, ngeri ah kalo sakit pas lagi di luar negeri! Eh, tapi mungkin juga karena “faktor U”. Wis tuwek gini kok ya saya dikasih sial mulu; datang ke Eropa dengan keadaan tendon bahu sobek jadi pakai penyangga tangan, hari ketiga jatuh dari tangga loteng sampai harus ke dokter di Belanda, kelar sakit pinggang eh saya muntaber di Montenegro, begitu sembuh eh saya jatuh kepleset ngejar bus di Albania sampe dengkul boncos! Duh, mana pede kencan sama laki kalo sengklek begini? Hahaha!

Puji Tuhan, setelah pulang dari Eropa dan di rumah aja seminggu, saya sehat dan tidak kena Covid-19.


P.S. Agar tulisan di blog yang berusia 17 tahun ini bertahan secara independen, silakan menyumbang “uang jajan” untuk saya di sini. Terima kasih.