November 29, 2022

Sudah tau kan rumah saya berada di salah satu kompleks makam terbesar di Jakarta? Cerita lengkapnya ada di buku The Naked Traveler 4. Nah, karena saya sering posting IG Story @trinitytraveler foto makanan yang dimasakin “geng ibu-ibu kuburan” sampai bikin netizen ngiler, maka saya mau ceritakan ah!

Lingkungan rumah saya ini bukan kompleks atau real estate. Dulunya kaveling-kaveling tanah kosong yang rumahnya dibangun oleh pemiliknya masing-masing sehingga model rumahnya tidak setema namun tertata dengan baik – sebut saja “rumah gedong”. Seiring dengan berjalannya waktu, tanah di pinggir kuburan dibangun oleh sejumlah orang tanpa izin. Mereka membangun rumah seadanya dengan bentuk bedeng-bedeng – sebut saja “rumah bedeng”. Sudah beberapa kali dirazia aparat, namun entah kenapa tetap saja tumbuh berkembang. KTP mereka Jakarta, ada nama jalan tapi tidak ada nomor rumah.

Dari dulu saya cuman kenal gitu aja sama tetangga, sekedar hi and bye. Semenjak menjadi Kepala Keluarga di KK, sayalah yang harus berurusan sama RT dan ha-ha-hi-hi sama tetangga. Saya sih nggak gaul sama tetangga rumah gedong karena mereka sibuk kerja kantoran sehingga jarang terlihat. Kebalikannya, tetangga rumah bedeng selalu ramah dan terbuka. Saya kenal mereka dari ART saya.

Sejak pandemi yang nggak bisa ke mana-mana ini, saya jadi sering nongkrong sama para tetangga rumah bedeng, saya menyebutnya “geng ibu-ibu kuburan”. Kami bagaikan tinggal di dalam bubble sendiri yang cuman satu blok perumahan dengan kostum dasteran. Saya paling dekat dengan Ibu T dan Ibu E yang berusia 40-50an tahun. Profesi mereka adalah ART di rumah-rumah gedong samping saya, tapi baiknya luar biasa! Kalau minta nasi atau titip kunci sih biasa, ini mereka sering ngundang makan-makan enak!

Bebek goreng & Soto Betawi

Makan-makan biasanya diadakan pada Sabtu malam atau hari Minggu, yang digelar di bale-bale pinggir kuburan atau gelar tikar di pinggir jalan. Menunya sangat beragam, mulai dari aneka sambal yang nendang, oncom leunca, cumi asin, sop iga, soto Betawi, sate maranggi, nasi liwet lengkap, sampai spaghetti dan sup Tom Yam. Kalau Ibu T yang asal Cianjur ini ngeliwet, kami sering makan rame-rame di atas daun pisang. Geng ini pun bertambah banyak dengan ibu-ibu rumah bedeng sekitar, plus bapak-bapaknya yang sering nyumbang ikan hasil pancingan (kadang mancingnya di kuburan!). Makan-makan heboh biasanya dalam rangka Tahun Baru, Lebaran, dan Iduladha (jatah daging kurban mereka dimasak untuk makan rame-rame!).

Ngeliwet Tahun Baru

Ibu-ibu itu memang jago masak karena berpengalaman puluhan tahun jadi ART. Ibu T dulunya kerja di rumah orang kaya dan pernah tinggal di Australia, sekarang dia kerja di tetangga orang Kanada – jadilah dia jago masak makanan mancanegara, termasuk masakan Sunda asalnya. Sedangkan Ibu E dulunya kerja di rumah orang Cina Bangka yang punya restoran – jadilah dia jago masak Chinese food, plus masakan Jawa asalnya. Ibu E ini kadang saya hire kalau ART saya pulkam.

Tragisnya, mereka yang segitu baiknya itu kerap dirundung malang. Suami Ibu T dan Ibu E tiba-tiba meninggal kena serangan jantung. Ibu T harus membagi bedeng kecilnya dengan sepasang keponakan karena tidak sanggup bayar kos. Ibu E motornya hilang dicuri padahal cicilan belum lunas. Sedihnya lagi, anggota geng lain pun meninggal dunia satu per satu karena sakit. Ngeri juga dengan life expectancy warga bedeng yang rendah, tapi mereka menghadapi hidup dengan senyum dan pasrah.

Sebenarnya saya yang jadi nggak enak karena mereka modal sendiri untuk makanan dan nggak pernah mau terima duit dari saya. Yang bisa saya lakukan paling nyumbang duit untuk makan-makan besar, kadang ngasih pakaian atau barang elektronik yang masih layak pakai, kadang traktir makan di mal, dan setiap pergi ke luar kota, saya beliin oleh-oleh. Itu pun mereka balas jasa lagi dengan ngajak saya makan-makan lagi!

Ngajak naik MRT pertama kali

Saya pun berasa jadi agen pemerintah karena rajin menyuruh geng untuk vaksin, mengajarkan cara menggunakan aplikasi pedulilindungi, dan menangkal hoaks yang beredar. Saat sekolah masih online, kadang saya dimintai tolong ngajarin PR Bahasa Inggris anak-anak mereka, karena orangtuanya tidak tahu apa artinya share, fill out the form, atau file PDF. Baru kali ini juga saya masuk ke dalam WhatsApp Group RT. Lama-lama kayaknya saya cocok jadi Ketua RT nggak sih? Hehe!

Menjawab pertanyaan netizen di DM, “Obrolannya apa aja sih sama mereka?” Ya yang ringan dan lucu aja. Saya jadi tau gosip warga sekitar, misalnya si ini affair sama si itu lah, si anu berantem sama si ono karena apa lah, si A ketangkep judi lah, si X dikejar debt collector lah, dan sebagainya. Saya pun cuma ketawa aja ketika mereka masih percaya bahwa orang tiba-tiba jadi kaya atau janda yang dikawinin lagi itu karena guna-guna. Positifnya gaul sama mereka, saya dapat referensi jajanan kampung yang enak dan murah dan nomor telepon tukang-tukang jualan sekitar yang siap delivery kapan aja.

Ada juga netizen DM saya, “Mereka tau nggak sih Mbak Trinity itu siapa?” Jawabannya: nggak tau. Mereka taunya saya kerja di depan komputer tapi sering ke luar negeri! Bisa jadi mereka pikir saya miara babi ngepet. Hehe!

Intinya, saya bersyukur punya para tetangga baik hati. Hari gini di Kota Jakarta gitu lho!


P.S. Agar blog yang berusia 17 tahun ini bertahan secara independen dan supaya saya semangat menulisnya, silakan menyumbang “uang jajan” untuk saya di sini. Terima kasih.