November 29, 2022

Saat ini dengan banyaknya disrupsi, seperti nonton film streaming, main game, belanja online, dll, orang (kita) jadi sulit fokus untuk duduk diam membaca buku – apalagi generasi muda! Hayo ngaku! Tapi jangan sedih, sekarang sudah ada teknologi yang bisa membantu kita membaca buku, yaitu dengan mendengarkan buku tersebut.

Audiobook (buku audio) adalah rekaman teks buku yang dibacakan oleh seorang atau sekelompok orang penyuara. Seperti ketika Anda mendengarkan musik atau siniar (podcast), tapi ini isinya tulisan sebuku. Dengan audiobook, kita bisa membaca buku sambil bermacet ria di jalan, bengong di pesawat, sambil masak, nyuci, olahraga, dan lain-lain.

Nah, di Indonesia baru saja diluncurkan audiobook lho! Namanya Storytel, aplikasi audiobook asal Swedia yang tersedia di lebih dari 25 negara di dunia. Kelebihan mereka dibanding pesaingnya adalah mereka menyediakan buku-buku berbahasa lokal, jadi memang kuat di Eropa dan Asia. Sistemnya berlangganan bulanan untuk membaca ratusan ribu buku di dunia.

Kabar gembiranya, buku seri The Naked Traveler kini sudah ada di Storytel! Ah, nggak nyangka banget tulisan perjalanan saya yang bermula dari blog naked-traveler.com pada 2005, lalu jadi buku cetak pada 2007 sampai jadi 15 buku, berkembang jadi acara radio dan acara TV, sampai jadi dua film layar lebar (sudah pada nonton kan? Ada di Netflix!), dan akhirnya sekarang jadi audiobook!

Pas buku seri The Naked Traveler ditawarkan alih rupa jadi audiobook oleh Storytel, saya langsung berpikir, “Siapa yang akan menarasikan ceritanya? Gimana kalau soul-nya nggak dapet?” Katanya nanti akan dicarikan voice talent yang cocok yang bisa saya pilih. Dasar saya rese kebanyakan nanya, akhirnya ditanya balik, “Gimana kalo Kak Trinity aja yang jadi narator?” HAH? Emang bisa? Perasaan suara saya sember begini! Apa nggak bikin sakit kuping para pendengar?

Saya pun meminta pendapat kepada teman-teman. Katanya, “Kalo gue dengerin audiobook elo, tapi bukan elo yang bacain sih gue merasa tertipu!” Ada juga yang berkomentar, “Obama aja narasiin bukunya sendiri di audiobook lho!” Atau memberi nasihat, “Hati-hati elo kan kalo ngomong cepet banget!”

Setelah berdiskusi panjang, saya pun akhirnya mengiyakan. Kayaknya memang cuman saya yang cocok menarasikan buku sendiri. Apalagi ini buku nonfiksi yang merupakan pengalaman pribadi yang gokil gitu! Jadwal pun langsung dibuat, dan rekaman dilakukan di sebuah studio 20 menit naik ojek dari rumah. Di studio ini saya “dikurung” seharian di kubik kecil yang kedap suara. Saya dipandu oleh seorang operator yang bertugas macam sound engineer, dan seorang VD (voice director) yang bertugas sebagai “sutradara” sekaligus pengarah vokal. Saya belajar banyak banget dari mereka!

Ternyata… susah banget jadi narator! Setiap kata harus dibaca, sampai ke titik koma. Artikulasi pun harus benar dan jelas. Karena buku menggunakan pakem KBBI jadi harus dibaca seperti apa adanya, misalnya nggak boleh bilang “sekedar” karena harus bilang “sekadar”. Yang paling sulit adalah menjaga excitement sepanjang menarasikan buku! Suara nggak boleh turun atau terlalu naik, harus nyambung dengan tone kalimat sebelumnya, temponya nggak boleh kecepetan atau kelambatan. Dan… hari pertama pun saya sukses dipulangkan siang hari karena suara saya sudah parau nggak karuan! Huhuhuhu!

Selanjutnya, selama tiga minggu saya balik lagi jadi MMK (Mbak-Mbak Kantoran) yang “ngantor” pagi, pulang sore, bahkan lembur sampai malam. Lucunya, setiap siang saya merasakan lagi kebingungan anak kantoran mengenai mau makan apa dan di mana! Hehe! Selama masa rekaman, saya menghindari makan gorengan karena takut tenggorokan gatal. Bahkan atas anjuran teman yang berprofesi sebagai MC, saya mengunyah kencur mentah setiap hari untuk menjaga pita suara!

Karena buku saya tentang perjalanan keliling dunia, maka banyak nama tempat dan istilah yang menggunakan berbagai bahasa asing. Misalnya, Auberge de Jeunesse (Prancis), Jugendherbergen (Jerman), atau Tuol Sleng (Khmer). Huruf e-nya e pepet dan e taling? Nah, semua kata asing itu harus diucapkan sesuai dengan bahasa aslinya! Yang ada, harus bolak-balik cek di Google Translate, dan kalau nggak ketemu, harus cari di YouTube. Belum lagi kalau ada dialog dalam bahasa asing, saya harus mengucapkannya dengan pas, bahkan kadang harus pakai aksen tertentu!

Saya baru tahu kelemahan saya adalah mengucapkan satu kata yang panjang, misalnya kata “menggeneralisasikan”. Juga kata yang banyak huruf g, seperti “gigi-giginya” ternyata sulit diucapkan dengan jelas. Lalu, kata yang huruf depannya “sp” seperti kata “spesies” ternyata membuat “badai” di telinga karena menyemburkan angin yang kebanyakan. Yang lucunya lagi, kadang saya mengutip lirik lagu di buku. Cara bacanya gimana? Ya harus dinyanyikan! Untung suara saya nggak fals-fals amat!

Rekaman di studio

Kalau tahu bahwa buku saya akan jadi audiobook, saya bakal menulis dengan cara berbeda sih! Hehe! Terus terang, membaca lagi buku-buku lama saya sendiri bikin saya agak malu. Gaya tulisan saya sebagai pemula berantakan banget! Mana zaman dulu kan tulisan belum ada norma seperti sekarang, seperti body shaming dan menyebut merk produk. Tapi ya begitulah, tulisan itu memang mencerminkan masanya.

Anyway, jadi narator buku itu adalah salah satu pekerjaan terberat yang pernah saya lakukan seumur hidup! Makanya saya lega banget akhirnya buku The Naked Traveler sudah tersedia di Storytel. Ayo pada dengerin audiobook saya ya! Mumpung mau musim liburan dan dunia sudah kembali terbuka, jadi bisa dapat inspirasi jalan-jalan keliling dunia. Pesan saya, hati-hati disangka gila karena bakal ketawa sendiri!

Yuk lah, buruan dengerin saya bacain buku The Naked Traveler 1 di sini! Stay tuned untuk buku seri selanjutnya!


P.S. (Pesan Sponsor): Agar tulisan di blog yang berusia 17 tahun ini bertahan secara independen, silakan menyumbang “uang jajan” untuk saya di sini.