November 29, 2022

Katanya, semua orang akan kena Covid pada saatnya. Saya nggak percaya itu! Buktinya dalam 2 tahun pandemi, saya aman-aman aja. Saya termasuk parno sehingga selalu jaga prokes. Jarang banget keluar rumah, kalau pun keluar rumah selalu pake masker dan rajin cuci tangan, pulang selalu langsung ganti baju, mandi, bersihin hape. Kalau makan di restoran selalu duduk di outdoor, ketemu orang hanya dalam circle yang sama, bahkan tamu aja kadang harus dites Antigen dulu (saya sampai punya stock tes Antigen sendiri dan lancar nyolokin!).

Sampai akhirnya… pada 2 Februari 2022 saya dikabari orang yang kontak dengan saya positif Covid. Nah lho! Terakhir saya kontak dengan dia pada 31 Januari, setelah tes Antigen saya negatif pada 30 Januari. Hari itu juga saya tes Antigen colok sendiri dan hasilnya negatif. Baru merasa aman, tiba-tiba besoknya saya demam sampai 37,8°C! Saya minum Paracetamol sih normal lagi, lalu tes PCR pada 4 Februari. Besoknya dapat WA dari lab, hasilnya saya positif Covid dengan CT 32! Aplikasi pedulilindungi saya pun berubah statusnya menjadi hitam!

Damn, saya kecolongan juga! Padahal saya terpapar oleh saudara sendiri di rumahnya yang semi outdoor dan duduk pun berjauhan, makanya kami santai aja tidak pakai masker. Ah, saya jadi teringat tweet dari dokter @FaheemYounous:

COVID will come to you through a trusted person, at a trusted place.

Jadi memang kita harus selalu waspada dan jangan kasih kendor prokes!

Ini langkah-langkah yang saya lakukan begitu kena Covid:

  1. Tidak panik dan langsung isoman!
  2. Brief orang serumah tentang pemisahan dan pembersihan ruang/barang saat isoman.
  3. Mengabari orang-orang yang kontak dengan saya setelah saya terpapar dengan orang yang positif Covid dan minta maaf. Ini penting banget supaya bisa di-tracing dan mereka bisa bersiap untuk tes Covid juga bila bergejala.
  4. Bila hasil tes PCR positif dan terkoneksi dengan aplikasi pedulilindungi, maka kita akan mendapat WA dari Kemenkes RI (centang hijau) yang isinya informasi tentang fasilitas ISOMAN GRATIS. Kalau tidak dapat WA, bisa cek NIK Anda di https://isoman.kemkes.go.id. Sampai tulisan ini dibuat, program ini hanya berlaku untuk area Jabodetabek, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar, Solo, Malang dan Kab. Karawang.
  5. Kita disuruh konsultasi daring ke dokter via aplikasi telemedisin (Halodoc, Alodokter, Gooddoctor, dll) secara gratis dengan menggunakan kode khusus. Saya sendiri pakai Halodoc, tapi entah kenapa nggak gratis jadi cuman diskon Rp 15 ribu (sementara konsultasi dokter termurahnya Rp 25 ribu). Ya saya bayar aja pakai GoPay. Dokter lalu memberi resep.
  6. Obat dapat ditebus gratis di https://isoman.kemkes.go.id./pesan_obat dengan melampirkan resep digital dari dokter telemedisin. Saya didiagnosa OTG (Orang Tanpa Gejala) lalu diberi resep 3 macam vitamin dan 1 obat flu. Kita bisa track pengirimannya melalui situs. Eh, besoknya datang cuman 1 vitamin doang! Lha, ngapain nebus resep kalo gitu yak? Kalau Anda bergejala, obatnya berbeda karena ada obat antivirusnya (itupun tidak semua obat sesuai resep dikirim).
  7. Lapor Pak RT dengan mengirimkan hasil PCR, copy KTP dan KK, lalu mereka akan menghubungi Puskesmas terdekat. Beberapa hari kemudian saya menerima sembako bantuan pemerintah berupa 20 kg beras, 2 liter minyak goreng, 1 kaleng kue, 7 kaleng sarden, 1 dus mie instan (yang expire-nya sebulan, jadi saya bagi-bagi lagi ke tetangga). Wah, terharu dapat sembako juga!
  8. Lalu saya dihubungi oleh petugas Puskesmas via WA. Saya diberitahu bahwa orang serumah saya akan mendapatkan tes PCR gratis di Puskesmas, maka saya menyuruh pembokat saya untuk tes 2 hari kemudian (alhamdulilah hasilnya negatif!). Dengan mengirim copy kartu BPJS, Puskesmas memberi saya vitamin C, D, E, Paracetamol, dan obat batuk (padahal nggak batuk). Karena dititip di security Puskesmas, saya minta tolong tetangga ambilin. Penting nih dekat sama tetangga!

Apa rasanya?

Sudah 2 tahun pandemi kebanyakan di rumah doang jadi saya tidak masalah isoman. Secara fisik, perasaan saya sebagai pasien OTG sih biasa-biasa aja, meski di awal badan rasanya greges-greges gitu kayak masuk angin. Saya tidak demam, tidak batuk, tidak pilek, tidak sakit tenggorokan, tidak anosmia. Mulai hari ke-5 aja hidung agak mampet dan kuping agak budeg. Tidur malam pun berkurang kualitasnya karena secara tidak sadar merasa cemas juga. Harap diingat, efek setiap orang mungkin berbeda ya!

Sedangkan secara psikis saya sih aman-aman aja. Tidak blaming, tidak denial, tapi accept aja, dan move on. Saya malah bersyukur kena Covid saat Omicron, setelah 2 kali vaksin, dan tidak ada komorbid – jadi yakin bisa sembuh!

Ngapain aja setiap hari saat isoman?

  • Saya konsultasi sama teman saya yang dokter @petrichor218 tentang kondisi saya setiap hari via WA. Dia yang menyarankan obat apa saja yang harus diminum (untungnya saya sudah punya telepon apotek terdekat, jadi tinggal beli via aplikasi GoShop). Paracetamol dan obat batuk dari Puskesmas tidak saya minum karena tidak bergejala. Jadinya saya hanya minum vitamin C, D, E, Zinc, dan disuruh rajin cuci hidung dan kumur tenggorokan pakai air garam. Makasih banyak ya, dok!
  • Rajin cek suhu tubuh, saturasi oksigen (pakai oximeter), menghirup minyak kayu putih (untuk ngecek anosmia).
  • Berjemur pagi hari, meski jadinya tidak setiap hari karena sering hujan.
  • Makan enak-enak (terima kasih untuk teman-teman yang mengirimkan makanan!), tetap makan buah-buahan, banyakin protein, dan minum susu.
  • Nonton streaming film, baca buku, chat sama teman-teman, kadang-kadang kerja daring.
  • Banyak berdoa.
  • Pokoknya dibawa hepi aja! Ingat, hati yang gembira adalah obat yang manjur!

Isoman hari ke-11, saya tes Antigen sendiri lalu tes PCR ke lab. Puji Tuhan, dua-duanya hasilnya negatif! Horeee! Sebenarnya aplikasi pedulilindungi statusnya akan otomatis hijau setelah 10 hari isoman, tapi saya tes lagi untuk memastikannya karena beberapa teman saya tes lagi hari ke-10 pun masih ada yang positif.

Sebagai penyintas Covid, pesan saya: tetap jaga prokes, meski Omicron ini efeknya tampak jinak. Kalau Anda mengalami gejala seperti demam, sakit tenggorokan, batuk, atau pilek, jangan denial tapi langsung tes Antigen/PCR dan segera isoman. Tetaplah bertanggung jawab untuk tidak menyebarkan virus Corona karena ada orang yang belum divaksin, ada orang yang memiliki komorbid, ada lansia, dan anak kecil. Sepakat?

Bagaimana pengalaman Anda? Boleh sharing dengan tulis di kolom komen ya!

P.S. Agar tulisan di blog yang berusia 17 tahun ini bertahan secara independen, silakan menyumbang “uang jajan” untuk saya di sini.